Google Yahoo MSN
Free Download Blogspot SEO Friendly Free Download Wordpress SEO Friendly Free Download Joomla SEO Friendly Free Download CSS SEO Friendly Free Download Blogspot Free Download Wordpress

Thursday, 14 June 2012

Bolehkah Puasa di Bulan Rajab?


Apakah Rajab Bulan Allah?

dakwatuna.com - Tulisan ini merupakan jawaban Dr. Yusuf Al Qaradhawi yang menanyakan tentang hadits keutamaan bulan Rajab, dan bagaimana hukumnya menyebar luaskan hadits palsu?.

Berikut jawaban beliau. Tidak ada riwayat yang sahih tentang bulan Rajab, kecuali bahwa bulan Rajab merupakan bulan-bulan Haram atau mulia, sebagaimana firman Allah swt dalam surat At Taubah:36 “Di antara dua belas bulan itu, ada empat bulan mulia”, yaitu bulan Rajab, Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, dan Muharram.
Tidak ada hadits sahih yang meriwayatkan tentang keutamaan Rajab, kecuali hadits yang derajatnya “Hasan”, bahwa Rasulullah saw. tiada lebih banyak melakukan shaum kecuali pada bulan Sya’ban. Ketika Rasulullah saw. ditanya kenapa demikian?. Beliau menjawab:
أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يصوم أكثر ما يصوم في شعبان، فلما سئل عن ذلك قال: أنه شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان.
“Sya’ban adalah bulan yang dilupakan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan.”
Dari keterangan hadits ini, dipahami bahwa bulan Rajab mempunyai keutamaan.
Adapun hadits:
“رجب شهر الله، وشعبان شهري، ورمضان شهر أمتي”
“Rajab bulan Allah, Sya’ban bulanku, dan Ramadhan bulan umatku.” Hadits ini adalah hadits munkar dan hadits lemah sekali, bahkan banyak dikalangan ulama yang mengatakan hadits ini ma’dhu’, alias hadits palsu yang tidak bisa diterima. Tidak ada nilai ilmiyahnya juga tidak ada nilai agamanya.
Hadits-hadits lain yang menerangkan keutamaan bulan Rajab, juga demikian. Seperti “Barangsiapa yang shalat demikian, baginya pahala sekian. Barangsiapa beristighfar sekian baginya pahala sekian”… ini semua sangat berlebihan dan semuanya tidak bisa diterima.
Di antara tanda hadits ini bohong, palsu adalah: “Sangat berlebihan dalam pahala atau ancaman.” Ulama berpendapat, “Bahwa janji mendapatkan pahala besar atas perintah yang remeh, atau ancaman dahsyat terhadap dosa kecil, adalah tanda bahwa hadits itu bohong atau makdzub.”
Contohnya, hadits yang sering diucapkan banyak orang,
“لقمة في بطن جائع خير من بناء ألف جامع”
“Sesuap nasi untuk orang yang kelaparan, lebih baik dari pada membangun seribu masjid jami’.” Hadits ini artinya sendiri sudah mengindikasikan kebohongan, karena tidak masuk akal. Bahwa sesuap nasi untuk orang yang lapar pahalanya lebih besar dari pahala orang yang membangun seribu masjid jami’.
Hadits-hadits yang menerangkan keutamaan bulan Rajab seperti dalam katagori ini…. oleh karena itu bagi setiap muballigh, pencermah, da’i dan ustadz untuk lebih hati-hati dalam menyitir hadits-hadits ma’dhu’ atau palsu dan menjelaskan kepada umatnya bahaya menggunakan hadits-hadits seperti ini… karena,
“من حدث بحديث يرى أنه كذب فهو أحد الكاذبين”
“Barangsiapa menyampaikan sebuah hadits padahal ia melihat hadits itu hadits bohong, maka ia bagian dari kelompok orang-orang yang pembohong.”
Namun, kadang ada orang yang tidak mengetahui bahwa hadits-hadits itu hadits maudhu’, maka ia wajib belajar dan menggali lagi hadits itu. Hendaknya ia berusaha untuk mengetahui sumbernya.
Sudah banyak kitab-kitab yang bisa dipercaya yang mengklasifikasikan derajat hadits. Ada kitab-kitab yang membahas khusus hadits-hadits dha’if atau lemah dan hadits maudhu’ atau palsu, seperti “Al Maqashid Al Hasanah” karya As Sakhawi. “Tamyizut thayyib minal khabits lima yaduru ‘ala alsinatin naas minal hadits” karya Ibnu Ad Daibi’. “Kasyful khafa wal ilbas fima isytahara minal ahadits ‘ala alsinatin naas” karya Al ‘Ajluni… banyak kitab-kitab lain yang hendaknya diketahui para khatib… mengetahui dengan sebaik-baiknya, sehingga mereka tidak meriwayatkan hadits, kecuali hadits itu bisa dipercaya. Karena perilaku inilah yang menciderai pemikiran dan wawasan Islam, yaitu tersebarnya hadits-hadits palsu yang sering disampaikan dalam khutbah, di buku-buku dan dikalangan lisan banyak orang. Padahal hakikatnya hadits ini bohong dan merendahkan agama.
Oleh karena itu, hendaknya kita menjaga dan membersihkan pemikiran dan wawasan Islam dari jenis hadits seperti ini.
Dan semoga Allah swt merahmati para ulama, ustadz, da’i dan siapa saja yang mengenalkan kepada orang lain, mana yang orisinil, mana yang bisa diterima, mana yang ditolak.
Bagi kita, hendaknya mau menerima riwayat yang sahih dan menjelaskan kepada orang lain. Mau meninggalkan yang palsu, karena hakekat agama ini telah sangat sempurna. Dan cukuplah kalau kita melaksanakan hadits yang sahih. Tidak mencari-cari hadits yang palsu.
Semoga Allah swt. senantiasa memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua. (ut)


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2008/07/819/apakah-rajab-bulan-allah/#ixzz1xiAr4XaI
========================================================================

Yaa Allah Berkahilah Kami di Bulan Rajab

Oleh: Ulis Tofa, Lc
dakwatuna.com – Hari ini, Jum’at 4 Juli 2008, tepat tanggal 1 Rajab 1429 H. Bulan Rajab adalah salah satu dari Empat Bulan Haram atau yang dimuliakan Allah swt. (Bulan Dzulkaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab). Allah swt berfirman:
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan Ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” At Taubah: 36
Fenomena pergantian bulan di mata muslim adalah salah satu sarana untuk mengingat kekuasaan Allah swt dan dalam rangka untuk mengambil ibrah dalam kehidupan juga sebagai sarana ibadah.
Karena itu, pergantian bulan dalam bulan-bulan Hijrah kita disunnahkan untuk berdo’a, terutama ketika melihat hilal atau bulan pada malam harinya. Do’a yang diajarkan oleh Baginda Rasulullah saw. adalah:
اللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِاْلأَمْنِ وَاْلإِيْمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَاْلإِسْلاَم رَبِّيْ وَرَبُّكَ اللهُ هِلاَلَ رُشْدٍ وَخَيْرٍ
“Ya Allah, Jadikanlah bulan ini kepada kami dalam kondisi aman dan hati kami penuh dengan keimanan, dan jadikanlah pula bulan ini kepada kami dengan kondisi selamat dan hati kami penuh dengan keislaman. Rabb ku dan Rabb mu Allah. Bulan petunjuk dan bulan kebaikan.” (HR. Turmudzi)
Shaum di Bulan Rajab
Shaum dalam bulan Rajab, sebagaimana dalam bulan-bulan mulia lainnya hukumnya sunnah.
Diriwayatkan dari Mujibah al-Bahiliyah, Rasulullah aw. Bersabda:
Puasalah pada bulan-bulan haram (mulya).” Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Imam Ahmad.
Rasulullah saw. juga bersabda:
“Kerjakanlah ibadah apa yang engkau mampu, sesungguhnya Allah tidak pernah bosan hingga kalian bosan”.
Ibnu Hajar, dalam kitabnya “Tabyinun Ujb”, menegaskan bahwa tidak ada hadits, baik sahih, hasan, maupun dha’if yang menerangkan keutamaan puasa di bulan Rajab.
Bahkan beliau meriwayatkan tindakan Sahabat Umar yang melarang mengkhususkan bulan Rajab dengan berpuasa.
Ditulis oleh Imam Asy Syaukani dalam Kitabnya, Nailul Authar, menerangkan bahwa Ibnu Subki meriwayatkan dari Muhamad bin Manshur As Sam’ani yang mengatakan bahwa tidak ada hadis yang kuat yang menunjukkan kesunahan puasa Rajab secara khusus.
Disebutkan juga bahwa Ibnu Umar memakruhkan puasa Rajab, sebagaimana Abu Bakar al-Tarthusi yang mengatakan bahwa puasa Rajab adalah makruh, karena tidak ada dalil yang kuat.
Namun demikian, sesuai pendapat Imam Asy Syaukani, bila semua hadits yang secara khusus menunjukkan keutamaan bulan Rajab dan disunahkan puasa di dalamnya kurang kuat untuk dijadikan landasan, maka hadits-hadits yang umum, seperti yang disebut di atas, itu cukup menjadi hujah atau landasan.
Di samping itu, karena juga tak ada dalil yang kuat yang memakruhkan puasa di bulan Rajab.
Do’a Bulan Rajab
Bulan Rajab merupakan starting awal untuk menghadapi Bulan Suci Ramadhan. Subhanallah, Rasulullah saw. menyiapkan diri untuk menyambut Bulan Suci Ramadhan selama dua bulan berturut sebelumnya, yaitu bulan Rajab dan bulan Sya’ban. Dengan berdoa dan memperbanyak amal shalih.
Do’a keberkahan di bulan Rajab. Bila memasuki bulan Rajab, Nabi saw. mengucapkan, “Allaahumma Baarik Lana Fii Rajaba Wa Sya’baana, Wa Ballighna Ramadhaana. “Ya Allah, berilah keberkahan pada kami di dalam bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan.”
Hadits di atas disebutkan dalam banyak keterangan, seperti dikeluarkan oleh Abdullah bin Ahmad di dalam kitab Zawaa’id al-Musnad (2346). Al-Bazzar di dalam Musnadnya -sebagaimana disebutkan dalam kitab Kasyf al-Astaar- (616). Ibnu As-Sunny di dalam ‘Amal al-Yawm Wa al-Lailah(658). Ath-Thabarany di dalam (al-Mu’jam) al-Awsath (3939). Kitab ad-Du’a’ (911). Abu Nu’aim di dalam al-Hilyah (VI:269). Al-Baihaqy di dalam Syu’ab (al-Iman) (3534). Kitab Fadhaa’il al-Awqaat (14). Al-Khathib al-Baghdady di dalam al-Muwadhdhih (II:473).
Memperbanyak amal shaleh, seperti shaum sunnah, terutama di bulan Sya’ban. Diriwayat oleh Imam al-Nasa’i dan Abu Dawud, disahihkan oleh Ibnu Huzaimah. Usamah berkata pada Nabi saw.
Wahai Rasulullah, saya tidak melihat Rasul melakukan puasa (sunnah) sebanyak yang Engkau lakukan dalam bulan Sya’ban.’ Rasul menjawab: ‘Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang dilupakan oleh kebanyakan orangDi bulan itu perbuatan dan amal baik diangkat ke Tuhan semesta alam, maka aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan puasa.” Allahu a’lam


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2008/07/786/yaa-allah-berkahi-kami-di-bulan-rajab/#ixzz1xiB5zJad

0 comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2012 - All right reserved | Template design by Mas-Kas | Published by Super Uniq
Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.